Entah
kebetulan atau tidak nama Nazarudin dan si burung Nazar kebetulan mempunyai
kemiripan baik dalam hal nama , ingat Nazarudin kebetulan juga mempunyai nama
panggilan Nazar begitu kolega-koleganya di DPR biaya memanggilnya dan juga
kebetulan pula Nazarudin dan burung Nazar sekarang mempunyai kebiasaan sama
yaitu memakan bangkai , jadilah Nazaruding Si burung Nazar. Lihatlah juga
kemiripan wajah Nazarudin dengan si burung Nazar difoto diatas, kebetulan
serupa tapi sama, lihatlah hidung Nazarudin yang mancung itu bagai paruh burung
Nazar yang tajam merobek bangkai, dan juga kelopak mata burung Nazar hitam sama
dengan kelopak mata Nazarudin, Nazarudin bagai burung Nazar yang merobek-robek
para politisi berbau bangkai busuk karena tingkah lakunya yang korup berbohong,
menipu , munafik,memakan uang rakyat
untuk kepentingan diri dan kelompoknya, mereka para poltisi itu tak lebih dari
seonggok mayat hidup karena jiwa dan nuraninya telah mati , mereka sengaja atau
tidak sengaja telah meracuni diri mereka dengan ambisi harta dan kekuasaan tak
peduli rakyat banyak yang menjadi korban, jika mereka masih tampak sperti kaum
terhormat , berpakain perlente dengan jas dan dasi licin bagai belut, bermobil
mewah bagai raja, tapi sesungguhnya hakekatnya mereka tak lebih dari mayat
berjalan. Nazarudin yang dulu dipuja-puja dan dihormati karena telah berjasa
membantu memberikan kenikmatan bagi syahwat harta dan kekuasaan mereka kini
para politisi mayat hidup itu berbalik
arah mencerca Nazarudin sebagai pembohong, penipu maka menjelmalah Nazarudin
sebagai burung Nazar yang mencabik-cabik kebusukan dan kebobrogan para politis
itu. Meski sekarang Nazarudin dan para politisi itu nampak berbeda kubu namun
hakekatnya mereka tak lebih panci ketemu tutupnya mereka tetap pasangan yang
klop, saling membutuhkan satu sama lain seperti ketika masih akrab berkawan,
Nazaruding sebagai burung Nazar terus berkicaua parau dan terbang tinggi jauh
dinegara tetangga sambil meneriakan kebusukan para politis itu dan siap
mencabik mayat hidup para politisi itu, dan para politisi itu tentu membutuhkan
Nazarudin sebagai tumbal untuk mengalihkan berbagai isu kebobrokan atas ulah
mereka sendiri. Yang jadi pertanyaan adalah bila KPK tidak membongkar kasus
kemenpora , atau Mahfud MD ketua MK itu tidak melaporkan gratifikasi Nazarudin ke sekjen MK , apakah situasinya
akan heboh seperti sekarang ini ? tentunya tidak, situasi akan berjalan damai
seperti apa adanya bila kasus-kasus itu tidak menguap, Nazarudin tetap
melenggang mengeruk harta haram dari sana sini untuk kepentingan dirinya dan
partainya, Nazarudin seorang politisi muda yang karirnya meroket menjadi
bendahara partai berkuasa yang berhasil menjadi mesin pengeruk uang bagi
partai, bahkan seorang Amir Syamsudin pun sampai kelepasan membuka dapur
partainya disalah satu acara talk show televisi bahwa Nazarudin telah
menyumbang secara pribadi uang untuk dapur partainya sebesar 11 Milyar , jumlah
yang tidak sedikit tentunya, belum bagaimana dia menyumbang secara resmi atas nama
kelembagaan partainya yaitu melalui aktivitas bisnis berkedok partai yang
menghasilkan uang untuk partai melalui proyek-proyek resmi di pemerintahan ,
yang sudah kebongkar adalah proyek kemenpora , kemendiknas dan kemenakertrans
yang tentu jumlahnya bisa ratusan milyar bahkan mungkin trilyun. Sebagai mesin
pengeruk uang bagi partai tentu Nazarudin akan dianggap pahlawan bagi
partainya, dan selama ini Nazarudin terus menikmati privelesinya sebagai
pahlawan partai yang terus mengisi bensin bagi mesin untuk menggerakan roda
partai supaya terus menang dan menang dalam pemilu berikutnya dan seterusnya ,
prinisipnya roda partai harus terus bergerak cepat berpacu mengalahkan para
pesaingnya dan bahan bakar harus tetap di isi dengan sumber yang dikeruk dengan
segala macam cara. Sialnya KPK keburu
membongkar sepak terjang Nazarudin, maka nama baik partai harus diselamatkan
dan harus ada yang jadi korban yaitu Nazarudin ! Sang Ketua Dewan Pembina (DP)yang
berbulan-bulan menyimpan rapat laporan Mahfud MD tentang gratifikasi Nazarudin
yang jumlahnya ratusan juta rupiah itu kepada sekjen MK tiba-tiba setelah kasus
Nazarudin mencuat tiba-tiba merasa perlu untuk melakukan konperesnsi pers resmi
tentang kasus gratifikasi itu, sang ketua DP nampaknya perlua menyelamatkan citra
partai dan dirinya, demi subuah citra maka Nazarudin yang telah ‘berjasa’
banyak harus dikorbankan, tentu bila KPK tidak membongkar kasus-kasunya
Nazarudin akan tetap menjadi pahlawan partai dan laporan gratikasi MK itu akan
tetap aman dalam laci sang ketua DP, begirtulah politik tiada yang abadi ,
kawan atau lawan bisa berubah setiap saat demi sebuah kepentingan syahwat
kekuasaan.
Terlepas
dari itu semua Nazarudin adalah potret sebuah negeri dimana kenikmatan dan
kemudahan hidup adalah orientasi hidup tak peduli bagaimana cara apa ditempuh
untuk mendapatkannya. Hasil adalah yang utama dan proses itu tidaklah penting.
Akibatnya sikap budaya hasil yang menjadi pola pikir dan tingkah laku
keseharian kita, budaya proses itu dianggap idealisme semu karena tidak
menjanjikan kenikmatan,kemudahan serta kemewahan. Nazarudin yang begitu muda
belum genap 33 tahun sudah menjadi milyarder, Nazarudin adalah korban dari
sebuah budaya hasil yang menghalalkan segala cara, dia muda kaya raya , dipuja
bak pahlawan dilingkungannya, diperlakukan bagai raja kecil, segala kebutuhan
hidupnya sudah ada yang melayani , dihormati , disanjung itulah ciri seorang
raja dan itu sudah didapat oleh Nazarudin diusia belianya, kehidupan hedonis
macam Nazarudin itu telah menjadi impian para kaum muda dinegeri ini, segala
macam cara dipakai untuk mendapatkan sebuah penghargaan semu, satu contoh
paling mudah adalah bagaimana proses belajar mengajar disekolah yang hanya
berujung pada sebuah nilai atau angka, semakin bagus nilai ujian dianggap sebuah
kebeehasilan yang pantas mendapat penghargaan dlevel berikutnya, tak peduli
nilai dan angka itu tanpa makna dan arti lagi, tak peduli bagaimana proses
mendapat angka dan memahami makna dibalik hasil angka itu, yang penting si anak
lulus ujian nasional meski dengan cara contek masal yang dilegalkan sekolah,
sudah menjadi rahasia umum setiap ujian nasional para siswa dipacu belajar yang
berujung dengan cara curang sekolah dan siswa
demi sebuah citra dimata masyarakat , demi sebuah gengsi sekolah, para
siswa harus lulus dengan nilai bagus dan bisa melanjutkan pendidikan disekolah
favorit, meski rahasia kecurangan itu telah terbongkar luas dimedia masa ,
namun para pejabat masih terus berusaha menutupinya itu juga demi sebuah citra
dan gengsi pemerintah yang tetap menganggap ujian nasional adalah cara terbaik
untuk memacu belajar, tak peduli dalam
proses pelaksanaannya banyak menimbulkan korban generasi muda yang sedari dini
harus belajar berbuat curang untuk mendapatkan nilai tanpa arti apapun kecuali
sebuah kebanggaan palsu. Jika cara metode pendidikan yang mengutamakan hasil
ANGKA tanpa arti makna itu terus berjalan tanpa ada perubahan jangan berharap
anak-anak akan menjadikan orang-orang hebat dan jujur lurus bersih nuraninya
yang cuma ada segelintir dinegeri ini seperti proklamator bangsa Bung Hatta
atau mantan Kapolri Hoegeng sebagai idola melainkan mereka akan kehilangan tokoh
panutan dan mungkin menjadikan tokoh seperti Nazarudin dan sejenisnya yang
jumlahnya seabreg itu sebagai idola yang sesuai dengan pola pikir tingkah laku
dari sebuah sistem kehidupan yang Hedonis dan Korup ini ! .Untu merubah sebagala kebobrokan moral yang
mengakar kuat kedalam sendi-sendi kehidupan masyarakat itu mungkin evolusi tak
akan mampu merubahnya karena sudah teramat parah dan evolusi membutuhkan waktu
lama untuk merubah suatu kondisi yang ada adalah kondisi itu makin lama makin
parah dan lebih banyak menimbulkan korban anak bangsa ini, bagaiama dengan ide
sebuah revolusi ? revolusi akan makan korban jelas , katanya perlu korban satu
generasi tapi menjanjikan suatu perubahan kondisi masa depan bangsa yang lebih
baik, lebih bersih dan lebih bermoral, tapi itu juga tergantung dari siapa yang
memimpin revolusi, karena pempin yang oportunis bila mempin sebuah revolusi hanya
menghasilkan perubahan yang nampak berbeda sesaat setelah itu keadaan akan
makin buruk dan buruk, sudah banyak contoh revolusi dinegara lain yang seperti
itu, kita butuh revolusi yang dilakukan oleh orang yang berakhlak mulia seperti
baginda Rasul kita Muhammad SAW, beliau telah merovolusi bangsa Arab yang
tadinya jahiliah penuh kegelapan menjadi terang oleh sinar wahyu Allah yang
dipancarkan melalui ajaran-ajaran Islam diberikan oleh Nabi Muhammad SAW bahkan
ajaran-ajaran Islam itu telah merevolusi
dunia hingga saat ini, kalaupun bangsa Indonesia kebetulan yang mayoritas
muslim ini kini tengah dilanda kegelapan moral yang korup, kita masih berharap
Allah memberikan hidayahnya , bila hidayah itu dalam bentuk REVOLUSI dan
dipimpin meski bukan sekaliber Nabi namun cukup orang sekaliber Bung Hatta,
semoga Allah selalu memberi Rahmat dan HidayahNYA bagi kita semua, amin.
By DWS , Jakarta 20 Juli 2011